Nama : FRANS PERNANDA SIMANGUNSONG
NPM : 24414368
Fakultas : TEKNIK INDUSTRI
JURUSAN : TEKNIK MESIN
Pertentangan Sosial dan Integrasi Masyarakat
Pertentangan sosial di dalam masyarakat merupakan salah satu konflik yang biasanya timbul dari berbagai faktor-faktor sosial yang ada di dalam masyarakat itu sendiri. Pertentangan sosial ataupun konflik adalah salah satu konsekuensi dari adanya perbedaan-perbedaan dan tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat misalnya peluang hidup, gengsi, hak istimewa, dan gaya hidup. Berikut ini merupakan faktor-faktor yang menyebabkan pertentangan sosial:
A. Perbedaan Kepentingan
Kepentingan merupakan dasar dari
timbulnya tingkah laku individu dan sifatnya esensial bagi kelangsungan hidup
individu itu sendiri. Sehingga kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh individu
di dalam manifestasi pemenuhan dari kepentingan tersebut.Secara psikologis ada
2 jenis kepentingan dalan diri individu yaitu kepentingan untuk memenuhi
kebutuhan biologis dan kebutuhan sosial/psikologis. Individu satu berbeda dengan individu yang lainya.
Berikut
ini merupakan faktor perbedaan tersebut:
a. Faktor Bawaan
b. Faktor Lingkungan Sosial
a. Faktor Bawaan
b. Faktor Lingkungan Sosial
Kedua
faktor diatas merupakan suatu contoh faktor yang dapat menimbulkan suatu
perbedaan. Perbedaan disini dibedakan atas faktor bawaan yaitu suatu faktor yang
memang timbul berdasarkan faktor perasaan ataupun bawaan seorang individu dalam
menyelesaikan masalahnya. Faktor yang lainnya adalah faktor lingkungan sosial
yang merupakan suatu faktor yang terjadi sangat dekat dengan lingkungan sekitar
kita. Sebagaimana kita tahu, lingkungan merupakan suatu tempat pendidikan yang
paling dekat dengan diri setiap individu yang dapat menentukan baik tidaknya
seorang individu di dalam lingkungan sosialnya.
B. Prasangka dan Diskriminasi
B. Prasangka dan Diskriminasi
Prasangka merupakan dasar pribadi seseorang yang setiap
orang memilikinya, sejak masih kecil unsur sikap bermusuhan sudah nampak.
Prasangka selalu ada pada mereka yang berpikirnya sederhana dan masyarakat yang
tergolong cendekiawan, sarjana, dan pemimpin atau negarawan. Prasangka dan
diskriminasi ini merupakan tindakan yang dapat merugikan pertumbuhan,
perkembangan dan bahkan integrasi masyarakat. Dalam kaitan dengan dasar
kebutuhan pribadi, prasangka menunjukkan pada aspek sikap. Sedangkan untuk
diskriminasi menunjukkan pada aspek-aspek tindakan.
Menurut Gordon Allproc (1958) ada 5 pendekatan
dalam menentukan sebab terjadinya prasangka:
1. Pendekatan Historis
Didasarkan atas teori Pertentangan Kelas yaitu menyalahkan kelas rendah yang imperior, dimana mereka yang tergolong dalam kelas atas mempunyai alasan untuk berprasangka terhadap kelas rendah.
2. Pendekatan Sosio Kultural dan Situasional
Meliputi mobilitas sosial, konflik antar kelompok, stigma perkantoran dan sosialisasi.
3. Pendekatan Kepribadian
Teori ini menekankan kepada faktor kepriadian sebagai penyebab prasangka (Teori Frustasi Agresi).
4. Pendekatan Fenomenologis
Ditekankan bagaimana individu memandang/mempersepsikan lingkungannya, sehingga persepsilah yang menyebabkan prasangka.
5. Pendekatan Naive
Menyatakan bahwa prasangka lebih menyoroti objek prasangka dan tidak menyoroti individu yang berprasangka.
Didasarkan atas teori Pertentangan Kelas yaitu menyalahkan kelas rendah yang imperior, dimana mereka yang tergolong dalam kelas atas mempunyai alasan untuk berprasangka terhadap kelas rendah.
2. Pendekatan Sosio Kultural dan Situasional
Meliputi mobilitas sosial, konflik antar kelompok, stigma perkantoran dan sosialisasi.
3. Pendekatan Kepribadian
Teori ini menekankan kepada faktor kepriadian sebagai penyebab prasangka (Teori Frustasi Agresi).
4. Pendekatan Fenomenologis
Ditekankan bagaimana individu memandang/mempersepsikan lingkungannya, sehingga persepsilah yang menyebabkan prasangka.
5. Pendekatan Naive
Menyatakan bahwa prasangka lebih menyoroti objek prasangka dan tidak menyoroti individu yang berprasangka.
C. Ethnosentrisme dan Stereotype
Etnosentrisme
merupakan sikap untuk menilai unsur-unsur kebudayaan orang lain dengan
menggunakan ukuran-ukuran kebudayaan sendiri. Dan diajarkan kepada anggota
kelompok secara sadar atau tidak, bersama-sama dengan nilai kebudayaan.
Sedangkan
stereotype merupakan suatu tanggapan dan anggapan yang bersifat jelek dan
tantangan mengenai sifat-sifat dan watak pribadi orang/golongan lain yang
bercorak negatif sebagai akibat tidak lengkapnya informasi dan sifatnya
subjektif. http://madchocolate.wordpress.com/2011/12/02/pertentangan-sosial-dan-integrasi-masyarakat/
D. Pertentangan Sosial Ketegangan dalam
Masyarakat
Konflik mengandung pengertian tingkah
laku yang lebih luas daripada yang biasa dibayangkan orang dengan
mengartikannya sebagai pertentangan yang kasar atau perang. Dalam hal ini terdapat
tiga elemen dasar yang merupakan ciri dari situasi konflik, yaitu :terdapat dua
atau lebih unit-unit atau bagian yang terlibat dalam konflik.Unit-unittersebut mempunyai perbedaan-perbedaan
yang tajam dalam kebutuhan, tujuan, masalah, sikap, maupun gagasan-gagasan.Terdapat
interaksi diantara bagian-bagian yang mempunyai perbedaan tersebut.Konflik
merupakan suatu tingkah laku yang dibedakan dengan emosi-emosi tertentu yang
sering dihubungkan dengan kebencian atau permusuhan, konflik dapat terjadi pada
lingkungan :
Pada taraf di dalam diri seseorang, konflik menunjuk adanya
pertentangan, ketidakpastian atau emosi dan dorongan yang antagonistic dalam
diri seseorang
Pada taraf kelompok, konflik ditimbulkan dari konflik yang
terjadi dalam diri individu, dari perbedaan pada para anggota kelompok dalam
tujuan, nilai-nilai dan norma, motivasi untuk menjadi anggota kelompok, serta
minat mereka.
Pada taraf masyarakat, konflik juga bersumber pada perbedaan antara
nilai-nilai dan norma-norma kelompok dengan nilai-nilai dan norma-norma dimana
kelompok yang bersangkutan berada. http://yanceqalam.wordpress.com/2012/12/04/7-pertentangan-sosial-dan-integrasi-masyarakat/
E. Golongan-golongan yang Berbeda dan
Integrasi Sosial
a. Masyarakat Majemuk dan National Indonesia terdiri dari
:
Masyarakat Indonesia digolongkan sebagai
masyarakat majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan golongan sosial
yang dipersatukan oleh kesatuan nasional yang berwujudkan Negara Indonesia.
Aspek-aspek dari kemasyarakatan :
1.Suku bangsa dan kebudayaannya.
2. Agama
3. Bahasa
4. Nasional Indonesia.
b. Integritas
variabel-variabel yang dapat menghamabat dalam integritas adalah :
1. Klaim/tuntutan penguasaan atas wilayah-wilayah yang dianggap sebagai
miliknya
2. Isu asli tidak asli, berkaitan dengan perbedaan kehidupan ekonomi.
3. Agama, sentimen agama dapat digerakkan untuk mempertajam perbedaan
kesukuan
4. Prasangka yang merupakan sikap permusuhan terhadap seseorang anggota
golongan
c. Integrasi Sosial
Integrasi Sosial adalah merupakan proses
penyesuaian unsur-unsur yang berbeda dalam masyarakat menjadi satu kesatuan.
Unsur yang berbeda tersebut meliputi perbedaan kedudukan sosial,ras, etnik,
agama, bahasa, nilai, dan norma
F. integrasi internasional
Teori integrasi internasional dianalogikan sebagai satu payung yang
memayungi berbagai pendekatan dan metode penerapan –yaitu federalisme,
pluralisme, fungsionalisme, neo-fungsionalisme, dan regionalisme. Meskipun
pendekatan ini sangat dekat dengan kehidupan kita saat ini, tetapi hal ini
rasanya masih sangat jauh dari realisasinya (dalam pandangan
state-sentris/idealis), sebagaimana sekarang banyak teoritisi integrasi
memfokuskan diri pada organisasi internasional dan bagaimana ia berubah dari sekedar
alat menjadi struktur dalam negara.
Integrasi politik menunjuk pada sebuah ‘proses kepada’ atau sebuah ‘produk
akhir’ penyatuan politik di tingkat global atau regional di antara unit-unit
nasional yang terpisah. Hal ini bukanlah sesuatu yang baru dalam peradaban
manusia, sedangkan dalam tingkat hubungan internasional ia menjadi ‘kesadaran
baru’ dan ‘terminologi baru’ dan menjadi studi politik sistemik utama pada
tahun 1950-an hinggga 60-an [Charles Pentland 1973. International Theory and
European Integration. London: Faber and Faber Ltd.]. Pentland mendefinisikan
integrasi politik internasional sebagai sebuah proses di mana sekelompok
masyarakat, yang pada awalnya diorganisasikan dalam dua atau lebih negara
bangsa yang mandiri, bersama-sama mengangkat sebuah keseluruhan politik yang
dalam beberapa pengertian dapat digambarkan sebagai sebuah ‘community’.
Kesepakatan yang dibuat atas integrasi ini adalah dalam kerangka penyatuan
yang kooperatif bukan koersif. Ambiguitas yang terjadi dalam pemaknaan ini adalah
penggunaan istilah proses ataukah hasil/end-product. Hal ini dapat diatasi oleh
Lion Lindberg [dalam Political Integration as a Multi dimensional Phenomenon
requiring Multivariate Measurement, Jurnal International Organization edisi
Musim Gugur, 1970] dengan berfikir “integrasi politik adalah proses di mana
bangsa-bangsa tidak lagi berhasrat dan mampu untuk menyelenggarakan kunci
politik domestik dan luar negeri secara mandiri dari yang lain, malahan mencari
keputusan bersama atau mendelegasikan proses pembuatan kebijakan pada
organ-organ kontrol baru.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar